Budaya Baca Masyarakat Jepang part II

nah, buat kalian yang _sempat_ atau telah membaca artikel yang saia tuangkan pada beberapa hari yang lalu…

ada kabar gembira!!!ternyata artikel tersebut masih berlanjut, nah…untuk khususnya saya masukan dalam content tersayang…
Dan, saya jadi tau sendiri betapa GILA-nya orang Jepang akan membaca…

Rata-rata orang Jepang gemar membaca, atau paling tidak, gemar mencari informasi “yang tampak remeh sekalipun” dari orang lain. Akhir-akhir ini di salah satu stasiun televisi swasta ada acara yang disebut “hon ya no sekiguchi” yang biasanya dimanfaatkan oleh penerbit untuk mempromosikan buku2 terbaru mereka. Pada acara ini bintang tamu (artis, pelawak, olahragawan, dll) disuruh mempresentasikan isi suatu buku, sedangkan artis lain yang hadir di minta untuk membeli berdasarkan kesan mereka terhadap presentasi tadi dari uang saku mereka. Penonton dapat melihat visualisai referensi buku tersebut melalui layar TV dan bila tertarik dapat memesannya melalui internet atau telpon, mirip “TV Shopping” tapi yang dipasarkan adalah buku. Hal ini membantu penggemar buku yang tidak memiliki waktu luang untuk berkunjung atau berlama-lama di toko buku.

Ketika kita masuk ke sebuah toko buku, biasanya ada beberapa hal has yang kita jumpai. Pertama, biasanya buku-buku bacaan di Jepang, seperti novel, kumpulan essai, ataupun ilmiah populer dikemas dalam ukuran saku sehingga sangat mobile. Kita juga akan menjumpai pemandangan yang jarang kita temui di tanah air dimana orang-orang sangat menikmati buku (termasuk majalah maupun komik) baik di taman, halte bis, di dalam bis kota ataupun kereta. Kedua, kita akan sangat sulit mendapatkan buku-buku berbahasa Inggris di toko-toko buku umum. Hal ini dikarena, buku-buku hasil karya penulis asing akan langsung diterjemahkan oleh penerbit jepang ke dalam bahasa mereka, sehingga banyak kasus buku best seller yang diterbitkan di negara lain diterbitkan pula terjemahannya di Jepang dalam waktu yang hampir berbarengan. Ini adalah suatu karunia tersendiri bagi masyarakat Jepang khususnya penggemar buku yang bisa menikmati karya-karaya penulis dunia dalam bahasa mereka sendiri sperti halnya masyarakat Eropa, Amerika yang menggunakan “eigo kei” (bahasa keseharian bahasa inggris), “harry potter” misalnya. buku-buku terjemahan seperti ini sangat mendukung pemahaman masyarakat jepang terhadap perkembangan dunia. Sedangkan buku-buku yang berbahasa Inggris biasanya hanya bisa kita temui di toko-toko buku besar (biasanya di daerah perkotaan) yang memang menyediakan buku-b uku impor atau kita dapat memesannya melalui internet (sistem penjualan “internet shopping” sudah sangat maju dan banyak digunakan masyarakat, selain harganya yang lebih murah ketimbang harga pasaran di toko, juga buku-bukunya sangat variatif)

Kebiasaan Menulis Sejak Kecil

Budaya baca masyarakat Jepang yang tinggi ini tentu saja merupakan efek timbal balik dari tingginya budaya tulis mereka. Budaya tulis
Jepang sudah ditekankan sejak mereka sekolah dasar. Anak-anak SD biasaya selalu mempunyai tugas “sakubun” (mengarang) dalam waktu-waktu tertentu. Misalnya, tentang liburan musim panas, musim dingin, dll selalu ada tugas sakubun tentang apa yang mereka kerjakan, rasakan, dan alami selama liburan.

Saya teringat email dari sensei tgl 23 September lalu yang menginformasikan bahwa presentasi pertama untuk zemi (bimbingan tesis) adalah tentang kegiatan selama liburan musim panas. Kebiasaan lain yang baru pertama saya alami adalah bahwa setiap awal kuliah kita akan diberi lembaran kertas kecil untuk di isi nama dan nomor mahasiswa, kemudian 5 menit sebelum selesai perkuliahan kita diminta menulis kansho yang dapat berupa kesan, pendapat, ataupun pertanyaan seputar mata kuliah yang sedang kita ikuti tadi. Untuk pertama kalinya, saya bingung, apa yang mau saya tulis, akhirnya saya tulis “raishu mo yoroshiku onegaiitashimasu”.

Selain itu, murid-murid SD diberi tugas untuk membuat sakubun pada hari-hari tertentu, seperti hari bapak, hari ibu, dll dimana mereka disuruh bercerita kesan mereka terhadap bapak/ibu masing-masing dalam bentuk sakubun yang kemudian mereka presentasikan satu persatu di depan kelas. Dan yang sangat menarik adalah, ketika mereka akan lulus SD, mereka ditugaskan untuk mengarang tentang impian (cita-cita) mereka ketika kelak dewasa. Tulisan mereka itu akan di dokumentasikan secara rapi dan terawat oleh pihak sekolah sehingga bila kelak mereka dewasa dapat bernostalgia kembali dengan kenangan masa kecil mereka.

Hal demikian dialami juga oleh “Ichiro” dan “Matsui” pemain baseball Jepang yang merumput di Amerika. “… saya ingin menjadi pemain yakyu dunia. untuk itu saya berlatih sejak umur 5 tahun. Setiap hari saya akan bermain yakyu selama 3 jam. Setelah masuk SMP saya akan mulai ikut kompetisi yakyu tingkat SMP. Di saat SMA saya akan memperbanyak latihan menjadi 5 jam perhari dan aktif dalam setiap kompetisi. Dengan latihan seperti itu, setelah lulus SMA saya yakin b isa bisa masuk “club yakyu pro”….”. Kira-kira seperti ini terjemahan bebas tulisan “Ichiro” yang pernah saya baca, yang dia tulis saat kelas 6 SD menjelang lulusan.

Maka tak heran, jika rata-rata anak Jepang pandai mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan lewat rangkaian kata-kata. Ditambah lagi, karena bahasa Jepang adalah bahasa yang dibangun dari karakter gambar (kanji) dan bukan romaji, sehingga sarat dengan nuansa dan ungkapan yang ekspresif untuk bahasa sastra.

~ by canoerin on February 20, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.